Mengenggam Janji Wayan, Bagian Satu

Hiburan —Jumat, 19 Nov 2021 15:52
    Bagikan  
Mengenggam Janji Wayan, Bagian Satu
pinterest

MANDALIKA, DEPOSTMANDALIKA.COM- Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan bagi kita. Hari yang kita tunggu akhirnya tiba.

Haru, bahagia semua menjadi satu. Aku, Lina bahagia akhirnya bisa disandingkan dengan kamu, lelakiku, Wayan..

Pria dingin yang dalam hatinya penuh dengan rasa cinta. Rasa cintamu padaku yang teramat besar. Meluluhkan tembok itu.

Wayan, apa kau juga bahagia? Tanyaku setiap malam di dalam hati..

Baca juga: Jangan Dimainkan! Hitori Kakurenbo, Permainan Petak Umpet Bersama Roh Halus

Bertemu denganmu adalah sebuah anugerah. Tidak pernah ku sangka akhirnya aku memilihmu.

Masih jelas teringat di benakku awal pertama aku mengenalmu. Pria yang selalu dianggap culun karena jarang bergaul dan ketua osis di SMA kita.

“Kamu lina ya?” Ucapmu pada awal pertemuan kita. Kata-kata itu masih teringat jelas di dalam kepalaku, Wayan..

Aku yang merupakan murid pindahan dari kota lain akhirnya memutuskan untuk duduk sebangku denganmu.. Itulah awal pertemuan kita. Apa kamu masih mengingatnya?

Baca juga: Cara Mudah Mejalankan Hidup dengan Hal Positif

Kamu yang sering kali menjadi pelampiasan amarahku, kesalku. Namun kamu memilih untuk bersabar menghadapiku. Wayan, aku ucapkan terimakasih..

Hari itu, sepulang aku kerja, kamu meminta untuk bertemu denganku. Tidak kusangka, hari itu menjadi hari kamu melamarku, tanpa berpacaran. Kamu memilih langsung melamarku.

Hari itu juga jadi pertama kalinya kamu mengirimkan surat padaku. Lewat surat itu, tertumpah semua cerita kita semasa SMA dulu. Wayan, hari itu aku bahagia..

Lewat surat itu akhirnya kamu mengungkapkan semua kepadaku. Kamu memang lelaki yang sangat kaku, dan tidak pandai mengungkapkan perasaan lewat ucapan.

Baca juga: A Piece of The Myth Behind The Beauty of Mount Rinjani

Surat itu masih aku simpan, Wayan..

Wayan, sudah 2 jam aku menunggu kedatanganmu. Aku sudah sangat siap di altar gereja menantikan kehadiran dirimu. Tapi, kamu tidak kunjung datang.

Semua orang cemas menanti kedatanganmu. Aku menangis, menunggu kamu Wayan..

Wayang, kamu dimana? –zz-

 

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait